Free Angel Fly Redhead Help Cursors at www.totallyfreecursors.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label TRADISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRADISI. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2017

TRADISI ENDHOG-ENDHOGAN BANYUWANGI


TRADISI ENDHOG-ENDHOGAN BANYUWANGI

ANTUSIAS WARGA BANYUWANGI BEREBUT BERIBU-RIBU TELUR




BANYUWANGISUNRISE




Tradisi ngarak Endhog (telur) memperingati kelahiran Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriyah, digelar di Banyuwangi. Dalam gelaran Festival Endhog-endhogan tersebut, ratusan masyarakat hadir untuk menikmati bersama telur yang ditaruh dalam dalam ancak (semacam tumpeng) dan jodang di sepanjang jalan depan kantor Pemkab Banyuwangi.
Endhog-endhogan adalah tradisi mengarak telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak. Tradisi ini dilakukan hampir di setiap kampung dan desa di seluruh Banyuwangi sebagai peeingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seperti tahun sebelumya festival yang dimulai pukul 15.30 WIB ini, diawali dengan arak-arakan jodang dan ancak, dari dua penjuru jalan sebelah utara dan selatan menuju kantor pemkab. Jika tahun lalu digelar di simpang lima tengah kota Banyuwangi, kali ini digelar di lokasi yang berbeda untuk memberikan nuansa lain perayaannya.



TRADISIMAULUDAN



Event yang  digelar sebagai bentuk kecintaan kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang senantiasa diharapkan syafaatnya kelak Ini merupakan cara masyarakat Banyuwangi untuk terus menghidupkan tradisi dan kekayaan budaya Banyuwangi agar tak lekang oleh waktu. Peserta sengaja melibatkan semua lurah dan SKPD agar mereka juga memberi teladan memahami tradisi ini, sehingga tumbuh kecintaan pada budaya aslinya. 
Selain itu acara ini juga untuk menumbuhkan kembali semangat kebersamaan membangun Banyuwangi. “Dengan tema “Menebar Sholawat, Mengunduh Cinta Nabi Muhammad, Banyuwangi Penuh Rahmat diharapkan Banyuwangi akan penuh dengan rahmat sesuai tema yang usung kali ini."
Arak—arakan ini ratusan peserta. Masing-masing perwakilan membawa 3 ancak dan dua jodang yang dihias dan berisi ratusan telur untuk diarak dan dimakan bersama. Total jumlah telur yang dibagikan ke masyarakat dalam pawai ini, ada 2.000 butir dan 480 ancak.


WARISANBUDAYABANYUWANGI


Sembari berpawai, mereka menggemakan bacaan sholawat Nabi. Sehingga yang terasa bukanlah sekedar pawai arak-arakan, melainkan pawai yang menghidupkan gema sholawat nabi. Sambil diiringi tarian Islam, salah satunya Rodat Siiran.
Setelah arak-arakan terkumpul di satu titik, jodang telur dan ancak yang berisi tumpeng ini dibagikan ke masyakat untuk dimakan bersama-sama. Tidak ada perbedaan antara pejabat dan masyarakat, semua tanpa canggung berebut  telur dan tumpeng untuk di makan bareng-bareng.Asyik, ada endhog-endhogan, selain insyalloh berkah tradisi ini juga menyenangkan.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas & Protokol Juang Pribadi mengatakan tradisi endhog-endhogan ini biasa digelar di Banyuwangi sejak puluhan tahun yang lalu setiap Maulid Nabi Muhammad SAW tiba. Mengapa endhog?  Ini terkait dengan filosofi telur sendiri, di mana dalam telur memiliki tiga lapisan. Yakni, kulit (cangkang, Red), putih dan kuning yang ketiganya simbolisasi dari nilai-nilai Islam. Kulit bermakna Iman, Putih telur adalah Islam, dan Kuning diartikan Ihsan.
Sedangkan telur yang ditancapkan pada jodang mengadung makna makna dan simbol kehidupan yang sangat bagus, dimana pohon pisang tak akan mati sebelum berbuah. Dan jika ditebas di dalamnya masih ada lapisan yang baru dan akan terus tumbuh. Inilah makna yang luar biasa dari tradisi endog-endhogan kabupaten Banyuwangi

Senin, 11 September 2017

PETIK LAUT WARISAN BUDAYA BANYUWANGI

   PETIK LAUT WARISAN BUDAYA BANYUWANGI 

 Cara Unik Syukuran Nelayan Banyuwangi







Nelayan di Desa Muncar, Kabupaten Banyuwangi punya cara unik mengucap syukur atas rezeki yang didapat dari laut. Setiap tahun para nelayan setempat melaksanakan acara adat Petik Laut Muncar. 
Petik Laut ini adalah warisan leluhur yang disebut sebagai sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mereka mengais rezeki. Tradisi yang mulai digelar sejak tahun 1901 ini selalu diadakan pada tanggal 15 Muharam bertepatan dengan pasang air laut. 
Ini sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan ikan yang melimpah. Sekaligus ritual tolak bala. Memohon keselamatan agar terhindar dari bahaya saat berlayar mengarungi lautan. Makanya, tak sekalipun warga nelayan melewatkan tradisi ini karena takut mengalami musibah.
Petik Muncar diawali dengan mengarak sesaji keliling kampung, masyarakat menyebutnya 'ider bumi' dan tirakatan serta pengajian. Sesajian itu yang nantinya akan dilepaskan oleh iringan kapal di tengah laut. 




budaya lokal Banyuwangi




Tradisi ini diawali dengan mengarak sesaji dari rumah sesepuh menuju TPI Muncar untuk dilarung ke tengah segara. Sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah- buahan, pancing emas, candu dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup ini ditata apik dalam sebuah replika perahu nelayan.Perahu kecil ini berukuran 5 meter dengan warna serta ornamen umbul-umbul, persis perahu yang digunakan nelayan saat melaut. Inilah yang disebut Gitik. 
Setibanya di lokasi, sesaji disambut enam penari gandrung yang kemudian membawa sesaji itu ke atas kapal. Saat itu lah, warga berebut naik kapal pengangkut sesaji karena meyakini bisa 'tertular' berkah. 
Perjalanan selama satu jam ditempuh kapal-kapal dan diiringi musik-musik dari kapal. Masyarakat tampak antusias berjoged dan selfie ria dari atas kapal di tengah laut lepas. 




Banyuwangi punya tradisi 



Kapal-kapal itu kemudian berhenti di lokasi yang berair tenang, dekat semenanjung Sebulungan. Di sini ritual pelepasan sesaji yang dipimpin sesepuh nelayan dilakukan.
Teriakan syukur sontak menggema saat sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Beberapa nelayan bergegas menceburkan diri ke laut berebut mendapatkan sesaji. Sesekali mereka juga terlihat menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu.
Warga percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti.
Usai kemeriahan itu, perjalanan dilanjutkan menuju Sembulungan, sebuah semenanjung kecil di tengah perairan laut Muncar. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji untuk ke dua kalinya. 
Jumlah sesajinya lebih sedikit. Konon, ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan. 
Ritual dilanjutkan tabur bunga ke Makam Sayid Yusuf yang ada di semenanjung itu, kemudian diakhiri dengan selamatan dan doa bersama. Sayid Yusuf adalah orang pertama yang membuka lokasi Tanjung Sembulungan.




petik laut Banyuwangi


PEMKAB konsisten mengangkat kearifan budaya lokal yang ada di tengah masyarakat. Salah satunya, dengan mengemas tradisi tersebut menjadi bagian dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival.
Ini bentuk intervensi PEMDA untuk mengenalkan budaya asli Banyuwangi kepada masyarakat global. Dengan membranding tradisi ini dalam kemasan festival, kita berharap tradisi ini akan terus hidup dan menjadi daya tarik yang mampu mengerek kunjungan wisatawan.
Selain itu, masyarakat Muncar harus selalu menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. PEMDA Banyuwangi berharap masyarakat di sini selalu menjaga kebersihan pantai dan laut agar ikannya semakin berlimpah. Sehingga kesejahteraan warga juga semakin meningkat. 



sumber:https://news.detik.com/berita/d-3322030





Rabu, 06 September 2017

TRADISI KEBO-KEBOAN ALAS MALANG DI KABUPATEN BANYUWANGI

TRADISI KEBO-KEBOAN ALAS MALANG DI KABUPATEN BANYUWANGI

Warisan budaya Banyuwangi


AsliLareOsing


Wisata Banyuwangi- Masyarakat suku Osing Banyuwangi mempunyai tradisi unik dalam rangkaian selamatan desa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus sebagai upacara bersih desa agar seluruh warga di beri keselamatan dan di jauhkan dari segala marabahaya. Ritual yang rutin di gelar setiap tahun sekali, konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 18. Warga setempat meyakini jika tidak dilakukanakan muncul musibah di desa mereka.











Kebo-Keboan adalah bahasa daerah yang berarti kerbau jadi-jadian. Kerbau di pilih menjadi simbol karena merupakan hewan yang di aku sebagai mitra petani sawah. kerbau juga merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat desa yang mayoritas sebagai petani.
Pada awalnya ritual kebo-keboan ini dilakukan untuk memohon turunnya hujan pada saat musim kemarau dan sebagai penolak bala, tradisi kebo-keboan ini sudah berlansung ratusan tahun sekitar 300 tahun mulai abad ke 18, menurut budayawan banyuwangi Hasnan Singodimayan terdapat perbedaan antara kebo-keboan Alasmalang dan Aliyan, dari namanya jika desa aliyan namanya "Keboan" bukan kebo-keboan sedangkan nama "Kebo-keboan" lebih dikenal di Alasmalang, didesa Aliyan masyarakat yang menjadi kerbau tidak ditentukan oleh pemuka adat setempat melainkan arwah leluhur yang memilih siapa saja yang mmenjadi keboan sebaliknya didesa Alasmalang pemeran kebo-keboan dipilih oleh pemuka adat.
Walaupun sama kebo-keboan atau keboan ritual ini tidak menggunakan hewan kerbau sebagai sarana upacara, kerbau yang digunakan adalah binatang jadi-jadian berupa manusia yang berdandan mirip kerbau kemudian beraksi mirip kerbau disawah, Hasnan menjelaskan malam sebelum tampil orang-orang yang menjadi kerbau bisa kesurupan oleh roh leluhur perangai orang yang kesurupan mirip dengan kerbau dan hampir semua pemain keboan di desa aliyan kesurupan roh leluhur, sedangkan di Desa Alasmalang tidak semua kesurupan roh leluhur, katanya jumlah pemeran kebo-keboan di Alasmalang sekitar 18 orang, sedangkan di desa Aliyan tidak tentu.







Ritual ini digelar setahun sekali yakni pada bulan Muharram atau suro (penanggalan jawa), kenapa bulan Muharrom atau suro karena bulan ini diyakini memiliki kekuatan magis, awal munculnya ritual kebo-keboan di Alasmalang berawal ketika terjadi musibah pagebluk, saat itu warga diserang penyakit serta tanaman, banyak warga yang mati karena kelaparan karena keadaan gawat sesepuh Desa Mbah Karti melakukan meditasi disebuah bukit, kemudian mendapatkan wangsit yang isinya menyuruh warga menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri yang dipercayai sebagai simbol kesuburan serta kemakmuran. dan setelah malkukan ritual keajaiban muncul warga yang sakit mendadak sembuh, hama yang menyerang padi sirna dan sejak saat itulah kebo-keboan dilestarikan, mereka takut karna terkena musibah jika tidak melaksanakannya, pada saat menyaksikan warga berebut ingin ditanduk, konon jika ditanduk pemeran kebo-keboan dan sampai jatuh maka warga yang di tanduk akan mendapatkan rizki dan panennya lancar
Ritual kebo-keboan akan melibatkan sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun, kebo-keboan, pembawa sesajen, pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga untuk bersama-sama melakukan pawai ider bumi mengelilingi dusun krajan, pawai ini dimulai di petaunan menuju ke bendungan air yang berada du ujung jalan dusun krajan sesampainya di bendungan jagatirta (petugas penatur air) akan membuka bendungaan agar air mengalir ke sepanjang jalan dusun yang sebelumnya telah ditanami tanaman palawija.






khas banyuwangi





Setelah menyaksikan ritual kebo-keboan, anda dapat menyambangi makam keluarga Mbah Karti dan keturunannya di Alasmalang dan ditempat itupula terdapat batu yang mirip tempat tidur yang dikenal dengan nama Watukloso, diyakini batu tersebut dahulunya adalah tempat istirahat Mbah karti, dan nama Alasmalang sendiri berasal dari kata alas (hutan) dan malang (melintang) hal itu dikaitkan dengan keberadaan hutan yang melintang di atas bukit panjang didaerah tersebut.
Sedangkan keboan desa Aliyan menurut sejarahnya Buyut wongso kenongo adalah pendiri cikalbakal desa Aliyan, buyut wongso kenongo memiliki dua putra, buyut pekik menjadi leluhur masyarakat desa aliyan sementara buyut turi menjadi leluhur dusun sukodono desa aliyan, warga beda keturunan itu sampai sekarang tidak bisa akur dalam segala hal oleh karena itu setelah diberi doa dibalai desa aliyan, keboan asal sukodono bergerak ke kedawung dan sukodono kemudian mampir ke makam buyut turi sementara keboan asal aliyan bergerak ke aliyan krajan, timurjo, dan cempokosari, dan kemudian mampir ke makam buyut pekik
Demikian sejarah Tradisi Upacara Adat Kebo-Keboan Suku Osing Banyuwangi, semoga bermanfaat dan menambah kecintaan terhadap Banyuwangi.





sumber:http://www.kebanyuwangi.com